This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2016

Tidak boleh lebih tinggi dari pohon Kelapa





Beberapa minggu saya berada di Pulau Dewata tak satu pun saya temui bangunan yang menjulang tinggi mencakar langit seperti di kota-kota besar lainnya, apalagi jika saya bandingkan dengan ibu kota, masyarakat disini lebih suka dengan ketenangan dan kedamaian, bukan ketegangan. Saat saya berbincang dengan Pak Dhana yang waktu itu menyambut kedatangan kami dari Bogor beliau mengatakan beginilah Bali bangunannya tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Selintas saya menganggap ini becanda karena mana mungkin status pembangunan dihubungkan dengan pohon kelapa. Ternyata setelah beberapa kali saya ketemu dengan penduduk asli Bali dan mengamati  memang betul bangunan disini tidak ada satupun yang lebih dari tiga lantai. Jalanan pun tidak ada yang namanya jalan layang disini.
Akhirnya saya

Hubungan Kau dan Aku





Belajar bisa kepada siapa saja, yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai setiap pelajaran yang kita dapat dari lingkungan sekitar. Beberapa hari yang lalu saat saya mengurus pindahan dari tempat kost yang lama ke tempat kost yang baru saya memesan ojek online, mengingat tempat saya tinggal waktu itu cukup jauh dari Kampus. Dalam perjalanan kita membicarakan banyak hal dari mulai kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sampai pada sistem ekonomi dan kehidupan masyarakatnya.
Harus saya Akui bahwa Bali dengan sejuta budaya nya

Minggu, 29 Mei 2016

Energi Kehidupan

Hai, apa kabar?
Kalau beberapa hari yang lalu kita sempat membahas tentang cinta yang di analogikan dengan Barcode isi Hati, rasanya ada yang kurang jika kita hanya membahas Love tetapi tidak membahas Life, hari ini saya akan berbagi tentang energi kehidupan yang kadang – kadang naik dan turun. Bukan tentang Mencairkan Tabungan Energi loh yaa, yang sempat kita bahas sebelumnya. Tetapi tentang semangat hidup yang sering kali tidak konsisten dengan yang kita inginkan.
Pernahkan kita merasa loyo dan males buat ngapa – ngapain, atau bahkan kita stress dan ingin mati aja hehe jangan sampai deh yaa kita niat buat ngahirin hidup. Nah supaya kehidupan kita konsisten dan terus semangat everyday, anywhere and anytime kita membutuhkan dua energi dalam kehidupan kita, yaitu energi positif dan energi negatif sama seperti battery yang membutuhkan ion positif dan

Kamis, 26 Mei 2016

Barcode Isi Hati





Halo Bro & sist apa kabar? Lama rasanya tidak menyapa temen – temen semua lewat tulisan. Kemarin aku ikut seminar penulisan gitu deh yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris (HIMSI) sebelumnya terimakasih loh himsi udah ngadain seminar itu, aku jadi semangat buat nulis lagi.
Walaupun seminarnya tentang penulisan novel, dan aku ga begitu suka dengan novel tapi sedikit banyaknya aku dapet pencerahan dari hasil seminar itu, salah satu pencerahan nya yaa tulisan ini hehe.
Kalau dwitasari bilang “aku adalah tipe penulis yang tulisannya membahas JATUH CINTA DIAM – DIAM” aku

Rabu, 04 November 2015

Seperti mencairkan tabungan Alam




Sahabat pernah dengar apa yang dimaksud dengan tabungan Alam? Atau teman teman pernah mendengar apa itu hukum Alam? Berawal dari sebuah pemahaman seorang ilmuan Fisika, yang mengungkap tentang hukum kekekalan energi. “Energi yang ada didunia ini tidak bertambah dan juga tidak berkurang, melainkan hanya berubah bentuk dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain” kira kira seperti itulah bunyi dari hukum kekekalan energi.
Coba kita perhatikan semua benda disekitar kita, itu hanyalah bentuk lain dari benda yang sebelumnya berbeda. Pintu atau kursi yang kita duduki sebelumnya berbentuk kayu sehingga ada seseorang yang merubah bentuknya menjadi pintu atau kursi yang saat ini ada disekitar kita.
Apakah kayu nya bertambah? Atau mungkin berkurang? Tidak kayu tersebut bersifat tetap. Sebagian berubah bentuk menjadi kursi atau pintu dan sebagian lagi menjadi sampah kayu atau kembali lagi menjadi tanah jika ampas atau sampah

Minggu, 28 Juni 2015

SOSIOLOGI KOMUNIKASI ( NOMOPHOBIA )



Jika kita memperhatikan sekitar, terutama saat menggunakan transportasi umum, maka akan ditemukan fenomena menarik. Baik kita mengamati di stasiun commuter line, busway, kereta api, terminal antara propinsi, ataupun bandara, akan jamak kita temui orang-orang yang asik dengan gadgetnya masing-masing.

Bermain dengan smartphone dan tablet, seakan-akan lebih mengasyikkan daripada berdiskusi dengan orang lain. Satu hal yang ironis, dalam kumpul keluarga, ternyata setiap anggotanya banyak yang asik dengan gadgetnya, bukan ngobrol dengan keluarga sendiri.

Seakan, gadget sudah menjadi semacam 'fetish' yang menarik seluruh kesadaran mereka. Apakah yang terjadi?

Nomophobia di mana-mana

Jumat, 26 Juni 2015

Obat Kiriman Malaikat



.
Pernah denger bahwa di zaman nabi ada seorang laki laki yang mendapat kiriman makanan langsung dari surganya Allah? Mungkin kita agak sedikit gak percaya sama kisah tersebut. Namun kisah yang akan saya ceritakan pada tulisan ini adalah asli adanya dan saya alami sendiri.
Saya kasih judul tulian ini “Obat Kiriman Malaikat” memang betul ini sangat ajaib dan membuat saya takjub betapa indahnya skenario yang Allah berikan dalam kehidupan saya. Oke saya langsung mulai aja yaa ceritanya...

Rabu, 24 Juni 2015

Indah, Bahagia




Hanya dua kata itu yang kini ada dalam hati dan pikiran saya. Keindahan dan kebahagiaan ini benar benar menyelimuti hati saya. Indah, indah, indah hidup ini sungguh sangatlah indah damai dan tentram.
Mungkin teman teman semua aneh ko saya seperti orang yang kasmaran gini? Betul, memang betul saya sedang kasmaran dengan kondisi yang telah lama hilang. Dengan sesuatu yang telah lama sirna dan lenyap dalam keseharianku.
Cukup sudah berlebay lebay an nya hehe sebenernya saya sangat bahagia karena hari ini, senin 22 juni 2015 saya kembali merasakan menjadi seorang trainer. Yang mana ini

Selasa, 02 Juni 2015

You’re not God




Untukmu yang selalu merasa diri paling benar dan tidak pernah salah. Banyak diantara kita yang selalu merasa diri paling benar, dan bahkan tidak pernah salah. Biasanya ini terjadi dikalangan akademisi yang punya gelar banyak seperti Doktor dan profesor. ( tapi tidak semua loh yaa J ) Ingat wahai sahabat, jabatan dan gelarmu itu hanya sebagai jubah, hanya sebagai perhiasan yang jika tidak kau gunakan dengan baik maka kau terlihat seperti seorang bayi yang menangis meminta senjata api, belum pantas menggunakannya. Begitupun dengan gelar dan jabatan yang kita miliki saat ini jika tidak di imbangi dengan akhlak yang baik, maka sebetulnya kita belum pantas atas gelar dan jabatan itu.
Merasa diri paling benar pun biasanya terjadi pada orang orang yang merasa

Sabtu, 16 Agustus 2014

Tiga tempat yang tidak berfungsi sesuai fungsinya




Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika melihat gambar disamping?? Terkadang kata kata dalam gambar tersebut ada benarnya juga, termasuk saya sendiri pernah atau bahkan masih mengalami hal tersebut. Dan baru saja saya melakukannya Hehe, iya ketika menulis tulisan ini dapat ide nya ketika saya sedang pup di Wc. Memang lucu yaa hidup ini seolah tidak ada jalannya seolah tidak punya trek,

Sabtu, 24 Mei 2014

Kehadiran Kalian Membuatku Lebih Kuat


Entah apa yang terjadi pada saya hari ini, tidak biasanayadipagi hari memikirkan hal yang seharusnya saya abaikan, hinaan, ejekan, penolakan, pengabaian semuanya hadir dalam pikiran ini. Perkataan negatif orang lain terhadap saya malah saya ingat kembali, orang yang bilang si Apen tuh hanya omong doang, so motivator tapi kenyataan nyanothing, semuanya kumpul membebani isi pikiran ini. Padahal seharusnya hari ini saya mempersiapkan yang terbaik untuk saya tampilkan ke penonton nanti.
            Namun dibalik itu semua saya sadar, bahwa semua itu saya ingat bukan untuk dikenang sakit hatinya tapi saya harus ingat bahwa perkataan negatif orang lain terhadap saya adalah salah. Karena hal yang paling indah dalam hidup saya adalah membuktikan bahwa

HIDUP ADALAH PELAJARAN


Ada yang bilang bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, bagaimana tidak dia mempunyai tubuh yang luar biasa hebatnya, tanpa cacat sedikitpun. Hal yang paling penting dalam bagian tubuh manusia adalah otak. Otak seolah jadi CPU dalam tubuh manusia. Kita bisa menggerakan tangan, berjalan, bahkan makan dan minum itu semua adalah perintah dari otak.
Dengan diberikannya pikiran oleh sang pencipta manusia bisa melakukan apapun yang ia inginkan, asalkan ia mau berusaha dan mau belajar. Seperti judul diatas, “hidup adalah pelajaran” kita semua sebagai manusia bisa belajar baik dari kesalah

Jumat, 28 Maret 2014

Dibilang Mirip Artis dan Aktivis politik




Sabtu 15 maret 2014 hari ini jadwal saya perwalian di semester 2 itu artinya ini adalah awal perjalanan kuliah saya di semester 2 dengan nilai ip yang amat sangat lumayan Hehe saya berharap bisa mengambil semester atas, dan ternyata setelah saya konsultasi ke dosen wali yang baru yaitu pak Yoga saya dan semua teman teman yang IP nya diatas 3 tetap belum bisa mengambil semester atas, katanya sih karena perkuliahan di semester 2 lebih berat dari semester 1 dan sampai sekarang saya juga masih belum lebih berat berapa kilo gram, tapi yang akan saya bahas bukan masalah pelajaran, yang akan saya bahas adalah apa yaa??

Senin, 04 Februari 2013

Dia Bukanlah Aku


          Terik mentari siang menemani perjalanan Lusi sepulang sekolah. Tanpa ditemani siapapun, dia terus melangkah lurus menyusuri jalan. Sesekali Lusi menatap arloginya namun tidak menyimpulkan apa-apa. Gadis pendiam itu tidak pernah mempunyai teman. Banyak orang yang menilainya sebagai anak yang  judes. Di rumah maupun disekolahnya, Lusi selalu sendiri. Apalagi semenjak kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, Lusi semakin tertekan dengan keadaan rumahnya. Dia tahu sekarang ibunya harus bekerja keras untuk menghidupi dia. Tapi apakah harus melupakan kewajibannya sebagai ibu? Lusi merasa dirinya diterlantarkan.
                Sebenarnya Lusi butuh sekali kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang yang dulu sempat didapatnya dari seorang ibu kandung. Ayahnya yang dia anggap sudah melupakannya pun tak pernah muncul lagi dikehidupan Lusi semenjak dia bercerai dengan ibunya. Apakah ini jalan hidup yang diberikan tuhan kepada Lusi?
$$$
                Halaman rumah tidak seperti biasanya, yang selalu sepi dan hening. Lusi melihat sebuah mobil picanto hitam terparkir tepat didepan rumahnya yang sederhana bercat hijau muda itu. Pintu rumah pun terbuka lebar.  “ada tamu ternyata!” Lusi menyimpulkan.
                Seorang pria dengan penampilan rapi tengah didapatinya sedang mengobrol dengan ibu Lusi di ruang tamu. Pertanyaan berkelibat dibenak Lusi. Tanpa menghiraukan dua orang yang sibuk berbincang, Lusi berjalan lurus melewati mereka dan memutuskan masuk kedalam kamarnya.
“Lusi? Kamu sudah pulang? Sini, nak, ibu kenalkan dengan teman ibu.” Sapa ibunya ramah agar kedok sebenarnya tidak terbuka.
“Lusi capek ma!” dia menjawab singkat dan datar. Tanpa memandang pria itu, Lusi masuk dan segera menutup pintu kamarnya.
$$$
                Dalam lubuk hati seorang ibu, dia ingin sekali memperkenalkan Tino, teman dekatnya selama ini. Tanpa sepengetahuan Lusi, anaknya, Mira sudah menjalin hubungan dengan duda satu anak itu. Tapi sangat sulit untuk meminta persetujuan Lusi untuk menerima Tino didalam kehidupannya.
                Suatu hari, ibu Lusi datang dengan membawa seorang anak gadis seusia Lusi. Yang ternyata dia adalah anak kandung Tino. Sesekali Mira berusaha untuk memperkenalkannya kepada Lusi. Namun, tetap saja hati Lusi tidak bisa luluh meskipun ibunya membawa segudang pria dan gadis seusianya untuk diperkenal kepadanya. Karena memang hubungan anak dan ibu itu tidak begitu dekat. Bahkan sangat renggang.
“bu, itu anak ibu, ya?” tanya Rina, gadis yang dibawanya tadi.
“emh.. iya, itu Lusi, anak ibu satu-satunya. Dia juga seusiamu, emm.. mungkin umurnya berbeda satu atau dua bulan denganmu.”
“oh, ya? Tapi sepertinya Rina mengenal dia, bu!” tebaknya saat melihat wajah Lusi yang berbalik kearahnya.
                Disudut ruang tamu, Lusi yang berdiri tegap menatap ke luar terlihat geram melihat hubungan antara ibunya dan gadis yang tidak dia kenal itu. Sangat akrab! Hatinya kini bergejolak. Ingin rasanya dia menjambak rambut lurus gadis itu. Rasa kesalnya karena tingkah lakunya yang tidak wajar kepada ibunya. (baca: ibu Lusi)
“dia itu ibuku! Bukan ibumu! Pergi dari sini!” ucapnya dalam hati yang tidak dapat Lusi keluarkan dari mulutnya.
$$$
“hari-hari yang sangat menyebalkan!” ujar Lusi terlebih kepada dirinya sendiri. Langkah kakinya terasa begitu jontai untuk terus berjalan. Meskipun waktu sudah menunjukan pukul 07:00, namun Lusi masih dengan santainya berjalan. Dia tidak takut kesiangan masuk sekolahnya. “untuk apa aku rajin sekolah kalau tidak ada satu orangpun yang menghargai usahaku!” simpulnya sambil terus berjalan.
$$$
                Handphonenya bergetar dan mengejutkan Lusi yang sedang asik menyantap mie ayamnya. Lusi membuka plap handphone itu dan membaca pesan masuk yang dia rasa pesan itu sangat istimewa. Kerana pengirimnya tidak lain tidak bukan adalah ibunya sendiri. “tumben ibu mengirim pesan singkat!”
From: Ibu
Lusi, pulang sekolah ibu tunggu dirumah secepatnya. Ada hal yang ingin ibu katakan dan ini penting untukmu.
Pesan yang sangat singkat!
$$$
“aku pulang!” Lusi membuka sepatunya dan masuk kedalam rumah. “ada apa ini, bu? Kenapa pria itu ada disini lagi?” komentar Lusi ketika melihat seorang pria dan melihat ruang tamunya dipenuhi barang-barang yang terbungkus kotak. Mirip seperti hadiah.
                Tanpa melontarkan apa-apa, ibu Lusi menyuruhnyan untuk duduk terlebih dahulu sebelum dia menjelaskan maksud dan tujuannya membawa pria itu. “Lusi, ibu—ingin meminta ijinmu.” Dia memulai penjelasannya.
“apa?” jawabnya singkat.
“kemarin kamu belum sempat berkenalan dengan pak Tino, ini. Ibu ingin kalian saling mengenal satu sama lain. Karena, dalam jangka dekat ini, mungkin kamu akan mendapatkan ayah baru, Lusi.” Dia terhenti sejenak. Seakan akan memberikan kesempatan kepada Lusi untuk berkomentar.
                Suasana hening sejenak. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Lusi. Entah apa yang dia pikirkan. Namun saat itu pikirannya berkecamuk. Bingung akan menjawab apa! Tapi jika dia tidak berkomentar sedikitpun, itu berarti dia mengiyakan keputusan ibunya. Dengan begitu, Tino akan menjadi ayah barunya dan dia akan mempunyai saudara dari ayah tirinya itu. Aahh...!! saat itu ingin sekali Lusi berteriak. Didalam hatinya, Lusi sangat tidak setuju dengan keputusan itu!
“emm...” Lusi bergumam. Lalu memberanikan diri untuk angkat bicara. “kalau itu sudah menjadi keputusan ibu, Lusi—emm... Lusi—ijikan, bu.” Sedikit ragu dia berbicara. Setelah itu, dia beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan ibunya dan pria calon ayah barunya diruang tamu.
$$$
                Satu bulan sudah Lusi menjalani hidup baru dengan ayah tirinya. Selama itu yang dirasakan Lusi sama saja dengan hidupnya sebelumnya. Tidak ada yang istimewa. Bahkan ibunya menjadi sangat jauh dengannya. Rina, saudara tirinya perlahan telah merampas kasih sayang ibu Lusi. Yang berarti ibu tiri Rina. Lusi semakin geram dengan keadaan itu. Namun dia tidak mempunyai cukup keberanian untuk berbicara. Sampai suatu saat ketika Lusi, Rina dan ibunya diajak berbelanja oleh ayah tirinya ke sebuah mall. Dan perselisihanpun terjadi diantara Lusi dan ibunya.
                Sesampainya dirumah, masing-masing orang membereskan barang belanjaan mereka. Diantara ketiga orang disana, hanya Lusi yang tidak beres-beres. Bukan karena dia malas, tapi karena barang yang dia beli hanya sebuah jam tangan kecil yang tidak begitu mahal harganya. Dilihatnya Rina dan ibunya sedang bertukar hadiah didepan Lusi.
“Rina, sayang, ini hadiah untukmu. Menurut ibu, kamu pantas memakainya, sayang!” ujar ibunya dengan begitu ramah. Rina menerimanya dengan sangat senang hati.
“terimakasih, bu! Oiya, ini untuk ibu. Semoga ibu senang!” balas Rina. Melihat itu, Lusi yang tidak mau kalah, dia meminta bagiannya kepada sang ibu. Dengan memasang wajah sok ramah dan periang.
“ibu, ibu, untukku mana? Ibu pasti ngasih hadiah, kan?”
“astaga, Lusi! Maafkan ibu, nak. Ibu tidak ingat membelikan untukmu. Maaf ya, nak! Lain kali ibu belikan yang sama dengan Rina.” Agak sedikit terkejut dengan tingkah Lusi yang mendadak periang. Namun memang benar adanya, ibunya sama sekali tidak ingat akan Lusi, anak kandungnya. Bahkan hal yang memang tidak dipinta Lusi pun, dia lupa untuk membelikannya. Tidak adil! Pikir Lusi.
                Hatinya hancur sesaat, emosinya ingin meluap, tapi Lusi berusaha untuk menahannya. Sampai beberapa detik kemudian, dengan refleks Lusi menghentakkan meja didepannya karena emosinya yang begitu besar, sulit untuk dia kendalikan. Dan tujuan utamanya adalah kepada ibunya sendiri. “TIDAK ADIL..!!” Lusi marah! Dia tidak terima dengan semua ini. Seketika, ibu dan saudara tirinya tersentak dan menghentikan kegiatan mereka masing-masing. “BU? INI  LUSI, BU! A-N-A-K-K-A-N-D-U-N-G-MU!” napasnya tidak teratur, dia mengeja setiap kata untuk meyakinkan ibunya. matanya kini berkaca-kaca. Saat berkedip, tetesan airmata pun terguling dipipinya. Sebelum dia melanjutkan, Lusi mengatur napasnya kembali. “aku ini anak kandung ibu, bu! BUKA DIA!” dengan sigap telunjuknya menunjuk kearah Rina yang sok polos didepan ibunya. “selama ini aku tidak pernah minta apa-apa sama ibu! Yang aku minta hanya ketulusan ibu! Perhatian ibu! Kasih sayang ibu!” suaranya kembali lirih, dia tenggelam dalam kemarahan hatinya.
“Lusi...?!” ibunya mengherankan sikap Lusi. “kamu marah sama ibu, nak? Kamu marah? Salah ibu apa?” ujarnya tidak sedikitpun ada perasaan bersalah.
“ibu...” Lusi menarik napas, dirinya mulai menangis, tangis yang tidak seharusnya dia keluarkan hanya untuk hal semacam itu. Tapi hatinya sudah terlanjur sakit. Sakit yang sulit untuk diobati. “selama ini, selama ibu bercerai dengan ayah, aku merasa tidak dianggap, bu! Padahal—aku—sangat butuh perhatian ibu! Bahkan, saat ibu menikah lagi—ibu masih saja seperti dulu! Ibu lebih memilih DIA daripada aku! ANAK KANDUNG IBU sendiri! Hiks-hiks!” di menangis. “DIA BUKANLAH AKU, BU! DAN AKU BUKAN DIA!”kekesalannya dia keluarkan saat itu juga. Tanpa berpikir dua kali, Lusi mengeluarkan semua kemarahannya kepada ibunya.
                Tanpa berkata apa-apa, Mira hanya terdiam membisu. Matanya berlinangan air mata, ikut terhanyut dalam kesedihan yang dialami Lusi, anak kandungnya. Dia beranjak dari duduknya. Berdiri dengan perlahan, lalu memeluk Lusi dengan segenap kasih sayangnya. Kasih sayang yang selama ini hilang entah kemana. Dalam peluknya, Mira menangis, menyesal dengan semuanya. “Lusi,, ibu—ibu tidak tahu! Ibu tidak tahu bahwa kamu kesakitan selama ini, nak! Maafkan ibu! Ibu sangat menyesal, ibu sadar—ibu baru sadar sekarang!” Mira, ibu kandung Lusi.
“ibu baru sadar sekarang, bu? Kemarin ibu kemana saja? Ibu tidak pernah membaca anakmu sendiri! Aku menahan sakit, bu selama ini! Ibu baru tahu sekarang?” Lusi yang tidak bergerak sedikitpun hanya menyanggah semua ucapan ibunya tadi. Rina, yang tidak mau ikut campur dalam masalah itu, hanya menunduk dalam kebisuannya.
“selama ini ibu sibuk dengan urusan ibu sendiri, nak! Ibu sadar itu! Ibu mohon—maafkan ibu, Lusi! Ibu minta maaf! Kamu anak kandung ibu, nak!” pelukannya semakin erat dan hangat.
“bahkan, Lusi baru kali ini merasakan pelukan seorang ibu yang ternyata begitu tenang dan damainya, bu! Lusi baru merasakannya! Yang Lusi inginkan sejak dulu-dulu! Lusi ingin setiap saat dipeluk ibu, merasakan kasih sayang seorang ibu! Lusi ingin itu, bu!” untuk yang kedua kalinya, dia meneteskan air mata yang seharusnya tidak dia lakukan. Namun, memang sangat sulit untuk terus membendung air mata itu.
                Sore itu, menjadi suasana paling haru. Lusi yang baru bisa mengungkapkan semua isi hatinya saat itu membuat keadaan begitu tegang. Mengapa ibunya baru mengetahui itu?  Mengapa dia baru menyadari kesalahannya? Padahal Lusi sudah menahan luka itu sejak dulu. Seharusnya ibunya tahu itu sejak awal! Tapi itu memang sudah menjadi kuasa tuhan. Tuhan telah merencanakan semua ini sedemikian rupa. Hingga akhirnya Lusi bisa memaafkan ibunya dengan tulus dan ikhlas. Dan kini, tidak ada lagi dendam diantara mereka berdua.
$$$
                Lembaran baru sudah mulai dibukanya. Perubahan dalam dirinya membuat dia semakin tegar menjalani semuanya. Pada saat itu pula lah dia menemukan sesuatu yang begitu utuh. Sesuatu yang didambakannya sejak dulu. Yaitu, keluarga yang lengkap. Walau bukan dengan ayah kandungnya. Dan kasih sayang yang sempurna. Tanpa membeda-bedakan antara dia dan dia. Semua itu akan Lusi simpan dalam lembaran barunya. Dan dia berjanji dalam dirinya sendiri tidak akan pernah membuka lembaran lama yang membuat hidupnya dipenuhi dengan luka.
“catatan Lusi dalam hidupnya...”
--Sekian--

Kamis, 24 Januari 2013

Cerpen "Menembus Batas"


Mata kuliah hari ini telah selesai, semua mahasiswa dikelas sudah keluar ruangan. Berbeda dengan yang lainnya, Rachel masih tetap betah diam dikursinya. Masih setia menunggu dosennya untuk keluar terlebih dahulu. Pak Juna tengah membereskan semua perlengkapan yang dibawanya tadi. Setelah semua masuk tas, beliau berpamitan kepada satu mahasiswi yang masih tertinggal didalam kelas itu. Lalu menyunggingkan senyum manisnya.“bapak duluan, ya!” pamitnya kepada Rechel. Rachel hanya tersenyum tanpa membalas pamitan Pak Juna.
            Sesekali dia manatap buku catatannya yang kosong. Beberapa kali dia menolak panggilan masuk dari

Rabu, 09 Januari 2013

Perjuangan Anak Shaleh


Alkisah, di sebuah desa yang kecil sederhana yang jauh dari keramaian kota, dengan sayup-sayup suasana alam yang begitu indah, dengan pepohonan yang rindang menghiasi desa Sukatani, desa yang relegius itu. Tingggal seorang anak desa yang bernama Rizal. Ia adalah anak dari tiga bersaudara yang ditinggal oleh ayahnya sejak ia kelas empat SD. Rizal seorang anak yang terkenal akan ke shalehannya.Ia memiliki cita-cita tinggi,menjadi seorang sarjana .Ia bercita-cita ingin mengggapai sarjana tehnik industri. Cita-cita itu berawal karena ia seorang anak desa yang hidupnya bertumpu di sebuah bengkel yang sederhana milik pamannya. Keluarga yang begitu serba

Minggu, 28 Oktober 2012

Experience is The Best Teacher


NASIHAT MAMAH
            Dimalam yang dingin ini, tidak seperti biasanya mamah Zira menghampiri anaknya yang sedang membaca dikamarnya. Entah apa yang ingin disampaikan mamah Zira kepada Zira.

warna warni persahabatan


Semilir angin sore hari yang meniup pundak dua orang anak yang sedang duduk terdiam dan merenung di pinggiran sungai kecil. Dia bernama Raufa dan Puri, mereka bersahabat dari kecil. Waktu mereka duduk di bangku SMP mereka bersahabat empat orang. Namun, kedua sahabatnya sekolah diluar kota.